Keberadaan lalat dalam jumlah masif di pemukiman warga kini telah berubah menjadi ancaman kesehatan yang serius. Warga melaporkan serangan berbagai penyakit endemic, mulai dari infeksi kulit hingga penyakit pencernaan.Warga Mengaku 'Tidur Bersama Lalat.
Kepala Desa Lubuk Raman, Safii, menegaskan bahwa aksi unjuk rasa ini murni merupakan akumulasi dari kekecewaan masyarakat yang merasa ruang hidupnya dicemari. Dampak lingkungan dari operasional peternakan tersebut dinilai sudah melampaui batas toleransi.
"Tuntutan warga hanya satu, perusahaan itu harus tutup. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan, warga setiap hari boleh dibilang tidur bersama kerumunan lalat. Akibatnya, banyak warga desa kami yang sekarang mengalami sakit gatal-gatal," ujar Safii saat mendampingi warga di lokasi demonstrasi.
Hal senada dikatakan iif, warga setempat. Ia mengungkapkan wabah lalat ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi sudah masuk ke fase darurat medis bagi beberapa keluarga."Kami hanya meminta perusahaan kandang ayam itu ditutup. Sejak kandang itu beroperasi, seluruh warga mengalami gatal-gatal. Bahkan, istri saya sendiri saat ini sampai jatuh sakit dan didiagnosis terkena tifus akibat sanitasi yang buruk dari serbuan lalat ini," kata Iif dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Surya Unggas Mandiri belum memberikan pernyataan resmi terkait gelombang protes warga. Upaya konfirmasi yang dikirimkan melalui pesan singkat WhatsApp kepada Manager PT SUM sama sekali tidak mendapatkan respons ataupun jawaban.
Aksi unjuk rasa yang berjalan di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian ini dipastikan legal. Berdasarkan keterangan koordinator aksi, demonstrasi warga Desa Lubuk Raman ini sebelumnya telah mengantongi izin resmi dari Polres Muaro Jambi guna memastikan penyampaian pendapat berjalan tertib. (***)
Social Header